Now or Never !

Now or Never !

Assalamualaikum Mommies..

Memenuhi permintaan beberapa teman dan janji saya berbagi pengalaman seputar melamar beasiswa LPDP, kali ini saya akan berbagi TIPS menulis essay. Seperti saya sampaikan pada postingan sebelumnya, yang belum membaca bisa check di sini , salah satu syarat untuk memperoleh beasiswa adalah menulis essay. Ada 2 essay yang disyaratkan ditambah 1 rencana studi (bagi master)  dan bagi kandidat doktor harus menyertakan proposal penelitiannya.

Ketika harus menulis essay tentang “SUKSES TERBESARKU” saya sempat bingung apa yang akan saya tulis. Saya melakukan perenungan beberapa hari, melakukan flash back apa-apa yang saya anggap sebagai kesuksesan hidup saya. Saya sangat bersyukur bahwa Allah SWT mengabulkan doa-doa saya dan saya bisa sampai pada titik ini..ya titik dimana saya harus menuliskan apa yang saya anggap pencapaian terbesar dalam hidup saya. Saya kira tiap orang punya cerita sendiri soal sukses..saran saya, fokus pada salah satu dari apa yang anda anggap sukses, mengapa anda merasa itu sebuah pencapaian terbesar dan apa pesan moral dari pengalaman anda.

Hasil dari perenungan saya kesuksesan itu selalu mengikuti setiap fase kehidupan manusia..so..kira-kira seperti ini contoh essay pertama  yang saya submit untuk melamar beasiswa LPDP.

“SUKSES TERBESAR DALAM HIDUPKU”

Apalah arti kata sukes bagi kita? Setiap orang mempunyai definisi yang berbeda-beda tentang satu kata ini. Meski sangat sering dan mudah di ucapkan, ternyata bukanlah hal yang mudah mencari definisi “sukses” secara umum. Apakah kecukupan materi, capaian pendidikan yang tinggi, karier yang melejit atau sudah berapa negara yang dikunjungi? Tentunya sangat tergantung dari cita-cita, harapan dan standar masing-masing orang.

Dulu ketika masih tertatih-tatih berlatih puasa, ukuran kesuksesan saya adalah menyelesaikan satu hari berpuasa. Meski belum faham benar arti dan tujuan puasa, rasanya sangat puas bisa menyelesaikannya sampai kumandang adzan maghrib tiba. Mungkin bagi sebagian muslim dewasa saat itu puasa sudah merupakan kewajiban dan kebutuhan sebagai bukti ketakwaan. Tapi apalah buat kami yang masih kanak-kanak kala itu, meski setiap hari khutbah-khutbah ramadhan selalu kami dengar, tentulah iman dan takwa adalah sesuatu yang sangat abstrak oleh pandangan kanak-kanak kami. Sederhana saja bagi saya, puasa itu tidak makan dan tidak minum dari fajar hingga matahari terbenam saat adzan dikumandangkan.

Ah…siang yang panas, bayangan es lilin yang begitu menggoda. Jangankan es lilin, melihat air putih dalam botol saja rasanya tak kuasa diri ini menahanya. Akan tetapi terngiang pesan ayah bunda, barang siapa bisa mengalahkan diri sendiri dalam menahan goda disiang hari maka surga yang indah balasanya. Sebetulnya meski belum tahu juga seperti apa itu surga, tapi rasanya ingin membuktikan bahwa saya mampu mengalahkan godaan-godaan itu. Terlebih janji baju baru saat hari raya, apapun rela saya lakukan.

Sore hari ternyata godaan bertambah berat, aroma masakan ibu yang …aduhai..penjual kue-kue dan hidangan berbuka semakin banyak, sedangkan jam didinding rasanya berjalan amat lambat. Kuatkan hati bisikku dalam hati. Dan ketika suara bedug masjid terdengar disusul kumandang adzan, itulah Suksesku terbesarku saat itu. 

Ketika beranjak remaja, dimana konsep diri mulai tertata, maka ukuran suksespun berubah. Hal-hal yang semula nampak abstrak mulai bisa dipahami. Cita-cita, karier, ekonomi keluarga mulai menjadi ukuran capaian sebuah kesuksesan. Mengorbankan hura-hura dan banyak kesenangan masa remaja, demi menekuni materi pelajaran agar dapat lulus dengan dengan nilai yang baik adalah usaha mencapai apa yang saya anggap “sukses”.

Hingga sampai saat ini ketika sudah keluarga, ukuran kesuksesan pun bergeser. Ukuran sukses itu  mengikuti tiap fase dari kehidupan kita. Ketika orang bilang “eh kamu sudah sukses ya” ? Apa iya? Apakah kesuksesan kita bisa diukur dengan standar orang lain? Kembali tercenung saya, hingga “dipaksa” untuk menuliskan essay ini.  Apa yang ingin saya capai untuk kembali meraih apa yang  saya sebut sebagai sukses. Apakah bagusnya angka-angka di buku rapor anak-anak tiap semester adalah sukses seorang ibu? Atau setianya seorang suami adalah kesuksesan seorang wanita? Saya kira bukan itu.

Jauh melampaui itu semua, sukses adalah keberhasilan mengalahkan diri sendiri, yang merupakan penghalang terbesar akan apa yang sudah di bayangkan untuk dicapai. Apakah itu kemalasan, rasa dengki, rasa cepat puas diri,atau egoisme yang tinggi. Itulah nilai yang lebih hakiki. Ketika saya sudah merasa nyaman dengan pekerjaan dan peran sebagai ibu, rasanya sudah tidak ada lagi yang perlu dicapai dalam hidup ini. Menyaksikan anak-anak tumbuh dengan sehat dan belajar dengan baik adalah sebuah kebahagiaan seorang ibu. Apakah sampai disini saja antiklimaks sukses dalam kehidupan saya?

Darimana anak-anak akan belajar proses sukses, kalau bukan dari guru pertamanya yaitu saya, darimana anak-anak akan belajar membangun konsep-konsep berkehidupan yang baik kalau bukan dari saya. Mengalahkan ego diri, mengalahkan kemalasan, dan memberi contoh nyata bukan sekedar kata. Karenanya dengan “Bismillah”, kususun lagi cita-cita, belajar-berkarya dan menetapkan standar sukses untuk fase kehidupan hari ini. Saatnya keluar dari zona nyaman, karena kenyamanan lebih dekat kepada kemalasan. Mari menuntut ilmu sampai ke negeri cina.

Nha..itu tadi contoh essay ya, semoga dapat menjadi inspirasi  mommies, di postingan selanjutnya akan saya tampilkan contoh essay yang lain.  See you!