Muna Madrah dot Com

a Note of Urban Mommy

MUDIK!!

Desaku yang kucinta

Desaku yang kucinta

Tradisi mudik tampaknya tidak dapat dipisahkan dengan hari raya Idul Fitri atau lebaran dan sebenarnya juga hari-hari besar keagaamaan bagi non Muslim, Natal, Nyepi atau Waisak.

Kegiatan ini telah menjadi ritual tahunan bagi kebanyakan muslim di Indonesia. Seumpama Ramadhan “Mudik” adalah saat buka dari perjuangan panjang dan berat. Mulai dari menentukan moda transportasi yang sesuai dengan budget, antri berjam-jam saat puasa bahkan berhari-hari demi selembar dua lembar tiket, berdesakan di pusat-pusat terminal transportasi publik, kemacetan yang bikin gila, bayangan kecelakaan lalu lintas, dan kecemasan- kecemasan lainya.

Semua itu akan terbayar lunas oleh tumpah ruah ungkapan kerinduan keluarga di kampung halaman. Hilang sudah lelah letih demi melihat orang-orang yang dirindukan dalam keadaan sehat. Orang Jawa bilang “Kapok Lombok” kapok makan cabe karena pedasnya, tetapi cabe selalu di cari karena kurang lengkap menu makanan tanpanya. Kita bilang kapok mudik lebaran, macet lah, susah cari sarana transportasi lah, repot lah, tapi tetap saja rasanya “gimana gitu..” lebaran kalau tidak mudik.

Ritual ini pun tidak tanggung-tanggung telah membuat beberapa kementrian dan BUMN dan banyak instansi terseok-seok dan kerepotan. Kementrian perhubungan harus memastikan kecukupan dan kelayakan armada. Kementrian Pekerjaan Umum tergopoh-gopoh menambal lubang-lubang jalan di jalur-jalur pakem pemudik dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Pasokan BBM di sepenjang jalur mudik harus selalu tersedia. Perusahaan-perusahaan ternama menyediakan angkutan-angkutan mudik bagi karyawan atau mitra. Kalau Lebaran kebetulan jatuh saat menjelang pemilu, tak ketinggalan partai politik ikut-ikutan sibuk. Mulai dari mudik gratis, sampai menyiapkan fasilitas-fasilitas tempat istirahat bagi pemudik.Hebat ya!

Ah..Mudik…sarana penunjangnya tiap tahunya selalu carut marut selalu dihujat, di protes, dikritisi, di plintir demi kepentingan tertentu tetapi ritualnya selalu dirindukan. *Iya nggak sih Moms*

Diluar itu semua sebetulnya yang ingin saya sampaikan dalam postingan ini adalah mencoba mengambil pelajaran dari tradisi mudik itu sendiri. Pelajaran yang bisa menjadi renungan bagi saya dan keluarga agar tidak hanya menjadi tradisi tanpa makna.

Pada dasarnya manusia selalu ingin terhubung dengan leluhurnya. Desa adalah tempat dimana banyak dari orang penting dan orang hebat berasal. Kenangan kecil saat kita kanak-kanak, sungai, sekolah, teman-teman kecil dulu, hantu-hantu desa bahkan pohon mangga di kuburan bisa jadi cerita. Semua itu adalah rangkaian sejarah diri.

Tradisi mudik menyedikan ruang untuk memenuhi kerinduan akan masa-masa itu. Kita bisa mengingat kembali sambil tersenyum-senyum menceritakan kepada anak-anak yang akan dengan takjub mendengarnya.

Tidak lupa dalam mudik ada juga rangkaian tradisi-tradisi lain yang berhubungan dengan leluhur. Misalnya pada setiap hari-hari penting seperti hari raya, sejak kecil kita telah diperkenalkan dengan istilah ziarah ke makam, bersih-bersih kubur atau ritual sejenisnya yang berhubungan dengan leluhur kita.

Secara spritual, berziarah memang dinjurkan untuk mengingatkan manusia akan kematian. Hal ini penting untuk menjadikan diri kita rendah hati karena pada akhirnya kita akan kembali ke tanah tanpa membawa harta benda selain amal ibadah kita. Ziarah kubur semoga selalu mengingatkan kita akan “mudik” yang sesungguhnya di akhirat nanti.

Secara sosial ziarah akan memberikan kita banyak referensi akan leluhur kita. Pada banyak makam di desa-desa di jawa terutama, disetiap makam desa selalu ada makam yang dikeramatkan yang konon adalah makam “danyang” atau pendiri desa tersebut. Terlepas dari ritual-ritual diluar tuntunan yang banyak dilakukan penduduk untuk danyang, orang tersebut siapapun dia adalah orang yang telah berjasa membangun tatanan desa, menanamkan nilai dan tradisi yang baik yang terus dipercayai oleh masyarakatnya meski tidak pernah secara langsung mengenalnya.

Momen lebaran memang spesial, semua orang bahagia, semua orang jadi dermawan, salam, senyum dan sapa selalu mewarnai setiap pertemuan. Skala toleransi meningkat, stok maaf berlimpah ..alangkah indahnya. Perputaran uang di desa-desa secara signifikan meningkat karena banyak dermawan mudik sengaja menyediakan budget khusus untuk ayah, ibu, nenek, kakek, ponakan, orang-orang tua, anak yatim di desa dan sebagainya. Semoga kedermawanan ini terus bisa bertahan, meski di kota sana perekonomian sangat sulit.

Selanjutnya Mudik juga merupakan momen yang pas untuk memberikan pelajaran “pohon keluarga” kepada anak-anak sacara langsung. Bagi anak-anak kota yang hidup di kompleks-kompleks elit atau di gang-gang sempit mungkin tidak punya cukup waktu berkenalan dengan keluarga, kerabat, atau sanak famili. Nah di saat lebaran waktu ini bisa dimanfaatkan. Misalnya dengan memberi tahu kepada anak-anak hubungan atau silsilah dalam pohon keluarga. Ini akan meberikan manfaat anak akan mempunyai konsepsi pohon keluarga yang lebih besar dan lengkap.

Dalam tradisi jawa juga diajarkan bagaimana seseorang seharusnya menyebut panggilan untuk saudara atau kerabat. Misalnya kepada sepupu dari saudara tua ayah, meski umurnya lebih muda maka tetap harus memanggil dengan sebutan mas atau mbak. Hal demikian juga berlaku untuk semua posisi. Anak saya yang usianya 7 tahun, harus rela dipanggil tante oleh anak dari ponakan suami yang sudah kelas 6 SD.

Awalnya saya protes, kenapa tidak disesuaikan umur saja, siapa yang lebih tua dipanggil mas atau mbak, simple kan? Ternyata panggilan sesuai dengan posisi akan memberikan kita pemahaman dimana posisi kita dalam pohon keluarga, menentukan bagaimana kita “berunggah-ungguh” dan bersikap, sungguh sebuah ajaran dan nilai dari sebuah falsafah yang luhur, yang layak kita turunkan kepada anak-anak, agar mengenal keluarga, saudara dan kerabat.

Semua yang telah saya sebutkan tadi sebetulnya terangkum dalam sebuah tradisi yang selalu bersisian dengan mudik yaitu silaturahim. Susah payah yang dilalui demi mudik tidak lain adalah menyambung silaturahim. Silaturahim sangat dianjurkan, silaturahim memperpanjang umur, membuka pintu-pintu rezeki dan menghapuskan dosa-dosa.

Setiap sungkem yang kita haturkan kepada orang tua, tetua, sesepuh dan pini sepuh selalu dijawab dengan doa-doa panjang untuk keselamatan, kelimpahan rezeki, kesehatan sungguh bukan basa-basi dan janji politik tetapi doa-doa ikhlas dari mulut-mulut bertuah yang Insya Allah di Ijabah.

Ibarat batre, doa-doa tadi adalah recharging yang memberi energi baru untuk kembali berkarya lagi. Ahhh…semoga saya dan anda..selalu bisa mengambil hikmah dari setiap perjalanan hidup, termasuk perjalanan mudik, sehingga tidak sia-sia letih dan lelah ini. Selamat kembali ke desa!

Eid Mubarak, Mommies!!

Previous

MAKSI “HOT” di Kedai pak UNTUNG

Next

TIPS : Lolos Seleksi Berkas Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) LPDP- Bag-1

6 Comments

  1. Aku dan suami beda asal, jadi sempat bingung soal panggilan pada sepupu. Di sumatera, pangilan kakak-adik tergantung usia, bukan tergantung anak uwa atau acik.

  2. Iya di jawa memang kalau soal panggilan berdasarkan silsilah gitu ya mba, saya harus rela dipanggil “mbah” oleh sodara yang umurnya jauh lebih tua dari saya…*oh noooo

  3. Trus mba Muna mudiknya kemana nih?

  4. Hiks…. jd pengen mudik ke Aceh :(

Leave a Reply to Hidayah Sulistyowati Cancel reply

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén& Modified by Miss Fenny