Muna Madrah dot Com

a Note of Urban Mommy

Me and Nyai

20881_838864252851246_7342181175448215060_n

Jadi beneran nih mau ngomongin soal mertua???…yakin? sure? Oke deh..siapa takut ho ho ho…ini dia cerita saya..

Di usia yang ke 73, wanita ini masih tampak sehat. Ya inilah, ibu mertua saya. Suami merupakan anak ke 7 dari 8 bersaudara. *Wow..* sedang saya sendiri berlatar belang belakang keluarga kecil. kalau tidak salah hitung cucunya ada 21 cicitnya ada 13, wuih…kalau lebaran harus pake acara pasang tenda kali ye….

Cucu, anak, kemenakan memanggil beliau dengan panggilan Nyai Mah. Di usia senjanya beliau tergolong masih sangat mandiri, sejak mbah kung berpulang lima tahun lalu, beliau tetap tinggal dirumah sendiri. “Aku isih kuat, isih iso ning sawah, isih iso panen gedang, isih iso ning pasar” (aku masih kuat, masih bisa ke sawah, masih bisa paenen pisang dan ke pasar) begitu setiap kali kami putra-putrinya menawari untuk ikut saja bersama salah satu putra-putrinya.

Nyi Mah, memang sosok mandiri dan pekerja keras. Sejak mbah kakung berpulang tidak berlama-lama dirundung duka, beliau langsung kembali ke sawah, ke kebun dan ke pasar. Kegiatan beliau memang bertani dan berdagang, dagang apa saja hasil kebun dibawanya ke pasar, meski tidak setiap hari, ada pisang, daun pisang, jambu, mangga, kluwih, nangka. Dipasar saya bisa bertemu teman-teman sesama pedagang, berbagi cerita, saling mengabarkan, begitu alasan beliau. Dan mungkin begitulah cara beliau mengaktualisasikan diri.

Suami saya adalah anak laki-laki terakhir dalam kelauarga besar, masih ada adik bungsunya perempuan. Kebetulan kami lah yang tinggalnya paling agak jauh dari Nyai, meskipun masih dalam satu Kabupaten. Saudara lainya dan keluarga besar masih tinggal dalam satu desa. Sebetulnya tak ada yang perlu dirisaukan, karena hampir seluruh keluarga besar masih tinggal dalam satu wilayah yang sama.Mereka masih dapat memantau atau menjaga ibu mertua. Kehidupan desa yang bersahaja, dimana rasa kekeluargaan masih sangat kental.

Tapi meski demikian yang selalu di ngen-ngen (jawa) oleh nyai adalah suami. Rasanya kalau beberapa hari saja nggak lihat suami saya,kok rasanya masih mengganjal. Untunglah suami seorang wirausaha, bukan papa kantoran, sehingga sekalian saja kami putuskan workshop dan bengkel kerja suami di area desa asal suami. Biar sekalian bisa lihat-lihat Nyai. Toh masih terjangkau untuk setiap hari pulang pergi dari rumah ke workshop.

Hubungan saya dengan nyai baik-baik saja, kata kakak-kakak ipar saya, saya adalah mantu kesayangan. Mungkin karena saya tinggal paling jauh diantara yang lainya, sehingga Nyai mempunyai perhatian lebih kepada kami. Pun, kami tidak setiap hari bertemu. Meski masih dalam satu kabupaten yang sama, saya paling baru bisa berkunjung sebulan atau dua bulan sekali. *huh…mantu macam apa nih he he *

Diusia beliau yang sepuh, gurat-gurat kecantikan di masa muda masih tersisa. Pengalaman melaihirakn 8 kali dan membesarkan anak-anak, tak mengurangi semangatnya merawat diri. Wuih…kalau Mommy lihat, bodynya masih slim, perutnya sixpack ha ha…nggak kayak saya, dua anak body sudah bahenol gini, plus lipatan-lipatan itu…”OH…TIDAAKKK”  heu heu..

Konon, setiap beliau selesai melahirkan beliau minum jamu dan pakai  kendit (korset jawa) selama mungkin. *hiks* Jangan salah, konon waktu awal-awal punya anak, mbah buyut yang memakaikan kendit dan nyai harus berpegangan pada tiang supaya kendit bisa kuat menekan perut. *duh…membayangkan saya saya jadi begah*

Kami n Nyai

Kami n Nyai

Makanya kalau saya hamil dan paska melahirkan, banyak sekali peraturan Nyai. Jangan mandi malam, bangun harus pagi sebelum subuh, lalu selimut harus di tebahkan. Kalau membuka sesuatu bungkusan jangan langsung di sobek, buka dengan baik, supaya nanti kalau melahirkan lancar…dan masih banyak lagi nasehat beliau. Kadang sih saya sebel juga he he he…banyak banget ya peraturanya, apa lagi menurut saya lebih banyak mitosnya. Tapi saya kan  tipe anak mantu yang malas berargumen dengan orang tua. Jadi ya saya iya kan saja, kalau saya tidak setuju ya sudah tidak usah dijalankan, selesai. Saya ambil baiknya saja, dengan pengalaman beliau melahirkan dan mebesarkan anak-anak yang telah teruji tentunya pengalaman ini sangat berharga buat saya.

Oh ya, salah satu rahasia kesehatan beliau adalah, menjaga apa-apa yang masuk ke perut. Kalau sekarang semacam food combaining gitu mungkin ya. Karena beliau meyakini sumber penyakit adalah apa yang dari kita makan. Bukan hanya dari jenis makanannya saja lho, tetapi juga dari sumber makanan. Beliau selalu mengingatkan kami, “ingat pesan almarhum Bapakmu yo ngger…Ojo mangan soko sing dudu kringetmu, ojo mangan hake liyan” (jangan makan dari hasil yang bukan hasil keringatmu, dan jangan mengambil hak orang lain), falsafah itu yang Insya Allah terus menjadi pegangan kami dalam mencari rezeki.

Ah nyai…semoga kami juga dapat menurunkan falsafah itu kepada anak cucu kami kelak. Dari beliau saya belajar kesahajaan hidup, falsafah dan local wisdom. Love you Nyai…semoga Allah SWT, melimpahkan kesehatan dan kebahagian untukmu.

“Tulisan ini diikutsertakan pada postingan serentak dalam rangka memperingati hari Kartini di #K3BKartinian”

Previous

Menyusur Lorong Gelap Dunia Maya

Next

Rice Cake ala Urban Mom

6 Comments

  1. Nah itu, rahasia sehat dan tetap aktif Nyai itu ya, menjaga apa yang masuk ke perut :)
    Perempuan dulu banyak yang sehat dan jarang sakit.
    Kalau perempuan jaman sekarang, ada yang nggak bisa lepas dari fast food 😀

    • Aduhhhh….makpuh Indah Julianti, saya terharu…hiks..hiks…iya orang jaman dulu taat azaz he he he. Saya sebisa mungkin juga praktekin masak sendiri *kalau sempet*. Dan fast food itu,begitu menggoda juga kadang-kadang..makasih ya mak..

  2. Suka banget sama pesen ibu mertuanya Mak. Maka jleb tenan 😀

    • Mak Vhoy..makasih. Iya pesanya nggak neko-neko tapi dualeeemmmm..thanks for visiting. sebentar lagi akan silaturahmi virtual ke tempatmu ya,,,

  3. Keren nyainyaa, rahasia kesehatannya patut ditiru niih

Leave a Reply

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén& Modified by Miss Fenny