visa pelajarDear Moms…..saya mau cerita nih salah satu bagian dari pekerjaan saya. Saya sudah pernah ceritakan bagaimana saya menjadi cultural guide, kalau yang belum tau ceritanya bisa baca disini dan disini. Dua terakhir saya sebut bisa bikin kepingkel-pingkel kalau mengingatnya. Tapi Moms..yang satu ini, kalau diinget malah berat he he so saya share saja ya…*biar ringan*

Apakah itu? yaitu membantu pengurusan ijin tinggal bagi mahasiswa WNA. Duhhhh…asli deh Mom, bagian yang ini saya nggak terlalu suka. Tau sendiri kan birokrasi kita, yang meskipun katanya sudah reformasi birokrasi, teutep…bikin pusing pala beybe *lebay*.

Jadi begini, semester lalu kampus kami menerima mahasiswa WNA sebanyak 14 mahasiswa. Ada yang mengambil kuliah S1 dan S2. Ini termasuk agak banyak bagi kampus swasta di pinggiran kota ya. Biasanya sih nggak sekali banyak begini.

Moms, kalau kita mau ke luar negeri, biasanya tiap negara mengeluarkan visa sesuai dengan maksud dan tujuan kita ke sana kan? Apalagi kalau ke Amerika iya kan? Wuihhhh banyak banget tuh jenis-jenis visa. Demikian juga negara-negara maju lainya. Misalnya ada visa bisnis, visa turis, visa pelajar, visa konferensi dan lain sebagainya. Saya sih belum pernah ke Amrik ya, Cuma bantu urus Visa saja. Semoga suatu saat nanti bisa ke sana ya. Amin.

Bagaimana dengan Indonesia? Nha kebetulan nih ya ini berhubungan dengan pekerjaan saya. Khusunya untuk pelajar, ternyata Indonesia belum punya Visa pelajar lho? Masak sih? *iyeee…bener dah* Jadi bagaimana kalau WNA misalnya mahasiswa WNA atau TKA (Tenaga Kerja Asing) yag akan tinggal beberapa tahun di Indonesia. Kalau TKA saya belum pernah menangani kasusnya, kalau mahasiswa begini alurnya.

Setelah pihak universitas menerbitkan Letter of Acceptance (LoA) kepada calon mahasiswa, maka perjuangan saya pun dimulai. Kalau mahasiswanya masih negara asal mereka atau luar negeri saya mengirimkan LoA kepada mahasiswa disertai permohonan penerbitan Visa Kunjungan Sosial Budaya (VKSB) dan surat jaminan (Sponsorship) kepada KBRI di negara tersebut. Sampai disini biasanya mahasiswa sangat mudah mendapatkan VKSB. Dan mereka akan masuk Indonesia dengan VKSB. Kalau mereka masuk dengan VKSB yang berlaku untuk 60 hari, dan dapat diperpanjang selama 4 kali, dan setiap perpanjangan hanya berlaku 1 bulan saja. *Sipp…markusip*.

Ada juga mahasiswa yang sudah di Indonesia, dengan visa on arrival (kunjungan biasa), yang hanya berlaku selama 30 hari saja, dan dapat di perpanjang empat kali. Kalau belum mendapatkan ijin tinggal, pada perpanjangan ke lima mereka harus keluar Indonesia (biasanya ke Malaysia) untuk mengurus Visa baru lagi.
Nah, setelah mereka di indonesia, kami membuat laporan ke kepolisian, RT/RW dan kelurahan. Lalu kami  mulai mengurus yang namanya IJIN BELAJAR. IJIN BELAJAR ini bukan VISA pelajar lho…Ijin belajar ini yang mengeluarkan adalah Kementrian Pendidikan & Kebudayaan. dalam hal ini Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (DIKTI).

Caranya bagaimana? Nah disinilah petualangan di belantara birokrasi Indonesia di mulai. Kami mengajukan surat permohonan, surat jaminan dan seluruh dokumen mahasiswa WNA, rangkap tiga yaitu kepada Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Biro Perencanaan Kerjasama Luar Negeri, juga kepada Dirjen Dikti. Dan ini sistemnya belum ONLINE lho…..*nangis*. Moms, bisa bayangkann, seluruh universitas di Indonesia yang jumlahnya lebih dari 3000 itu kalau semua universitas lets say…punya satu saja mahasiswa WNA, berapa tumpuk berkas yang harus di urus, dan berapa rim kertas yang di habiskan? Kerena semua sistemnya belum online.  Sebagai ibu yang cinta lingkungan dan pengikut gerakan Emaks Anti boros *disitu kadang saya merasa sedih*

Nah mom, setelah kita memasukkan berkas, kita hampir tidak tau bagaimana dan kapan berkas kita akan di urus? Kalau kita beruntung dan punya kenalan orang DIKTI (di Jakartasonooooo) di bagian tersebut, kita bisa minta tolong track surat kita. Kalau tidak ya, ….gitu deh.. selamat menunggu godot.

Yang jelas setelah berkas masuk, DIKTI akan berkoordinasi dengan PKLN kementrian pendidikan dan Setneg. Kemudaian Badan Intelegen Negara akan meakukan yang namanya Clearence House, apalagi untuk mahasiswa yang berasal dari negara-negara konflik, prosesnya bisa memakan waktu lebih lama. Pengalaman saya untuk mahasiswa kami yang dari Libya memakan waktu sampai 6 bulan lho..ck…ck…ck.. tapi untuk mahasiswa dari Malaysia, satu bulan juga sudah jadi.

Kadang mahasiswa WNA  datang dan bertanya “ibu…kapan KITAS jadi?…Nha Ijinya saja belum keluar…”Kapan Ijinya keluar?” “Apa Ibu bisa bilang 1 bulan, atau dua bulan, atau 3 bulan?” Yaelahhhhh….belom tau apa kalau di Indonesia tercinta ini tidak ada yang pasti *dalam hati sih*. Sudah…sudah sana kamu belajar baek-baek aja ya…untuk sementara perpanjang saja VISA nya. Nanti kalau ijin belajar turun saya panggil deh….*duhhhhh…ganteng-ganteng nih mahasiswanya* #cucimata.

Setelah saya hampir lupa kalau saya pernah memasukkan berkas…ehhh tiba-tiba muncul tuh Surat Ijin untuk mahasiswa kami. * Horeeeeeeeee tepuk tangan*.  Tapi ternyata ini belum berakhir. Surat ijin tersebut kemudian di urus ke kantor imigrasi untuk mendapatkan kartu Ijin Tinggal Sementara (KITAS) yang berlaku satu tahun dan dapat di perpanjang. Dan ternyata mereka juga harus punya multiple reentri permit.

Berapa biaya pengurusan VISA dan penerbitan KITAS? Kalau visa Indonesia sendiri biasanya tidak mahal di kisaran USD 25 (on arival) atau perpanjangannya sekitar 300 ribu (resmi). Pembuatan Kitas (buat yang di daerah), hitung saja ongkos ke Jakarta PP untuk penyerahan berkas, belum lagi kalau ada kurang berkas. Penerbitan surat ijin GRATIS, penukaran surat ijin menjadi KITAS yaitu 1 juta untuk multiple reentri permit dan 1,8 jt untuk KITAS. Hitung sendiri ya Moms total nya.
So…Moms, mahasiswa WNA akan tinggal disini dengan KITAS bukan dengan visa pelajar. Jadi kapan Indonesia akan punya Visa pelajar? mmmm…….saya tanya pak Mentri dulu ya….:-)