Short Review

Judul Buku : Rindu

Penulis  : Tere Liye

Penerbit : Republika 2014

Tebal  : ii+544 hal

Baiklah, sebelum saya melanjutkan tulisan ini ijinkan saya mengucapkan terimakasih pada Ibu Arin dan Ibu Rina, duo mamak hebat ini yang sudah menghadiahkan novel keren ini pada saya.  Atas kemurahan hati mereka berdua saya jadi juga merasa bertanggung jawab untuk berbagi kepada teman-teman semua. Macam berbagi rezeki gitu lah :-p.20150330_135731

Ketika saya menerimanya, melihat tebalnya novel ini, saya yang sedang menikmati menjadi mama menyusui tanpa asisten sempat minder. Tetapi demi melihat penulisnya yang hampir semua novelnya telah saya baca..tentu saja saya tidak mungkin melewatkanya.

Inilah dia, Tere Liye hadir membawa rindu, dan menyebar kerinduan. Apa pasal? Sebagai penikmat karya Tere liye saya menemukan sesuatu yang berbeda dari karyanya kali ini. Dengan Setting latar belakang perjalanan haji pada tahun 1938, novel ini menghadirkan romantisme sejarah yang apik.

rinduSaya pernah mendengar dari sesepuh pinisepuh bahwa dulu sebelum jaman kemerdekaan perjalanan haji ke tanah suci dilakukan dengan menggunakan kapal. Membayangkanyapun terasa berat. Tere Liye mampu menjawab rasa penasaran saya.

Pada halaman-halaman awal, saya mulai menebak-nebak, siapa sih tokoh utama dalam novel ini. Seperti biasa Tere Liye menampilkan banyak tokoh pada novel-novelnya tetapi tetap ada satu sosok dalam keseluruhan alur yang di sajikan. Apakah Gurutta Ahmad Karaeng, seorang ulama besar dengan kedalama ilmu dan kezuhud-an laku. Ataukah Andipati, sosok yang digambarkan Tere sebagai pengusaha muda kaya, berpendidikan, dengan keluarga kecil yang bahagia? Atau Anna, gadis kecil 9 tahun, bermata bundar dengan wajah menggemaskan? Lalu hadir Ambo Uleng, pemuda pelaut yang tiba-tiba masuk dalam “nominasi” tokoh utama sebagai pemuda pelaut penuh misteri, yang menjadi kelasi pada kapal haji BLITAR HOLLAND.

Misteri tokoh utama pada bagian awal ini justru membuat saya terbius oleh kalimat-kalimat Tere pada tiap halamanya. Ternyata kehidupan diseputar “kapal” pun dapat menjadi kisah yang menarik dalam ramuan Tere. Hampir 90% kisah ini bersetting diatas kapal. Setiing cerita tentang daratan atau kota-kota yang disinggahi merupakan bumbu yang membuat kisah ini menjadi lebih hidup dan legit untuk dinikmati. Mungkin bisa dibayangkan seperti kisah Titanic ya. Tapi ini jelas berbeda.

Karena kisah ini berlatar belakang saat Indonesia masih dalam kekuasaan Kerajaan Belanda, tentu saja beberapa tokoh Belanda ikut masuk menjadikan ego kenasionalan turut bergelora. Ada tokoh yang di gambarkan sebagai “Belanda yang Baik” seperti kapten kapal Phillip, dan Tokoh yang antagonis seperti serdadu Lucas, masuk juga koki Lars yang bertampang garang tetapi berhati lembut. Yang saya suka pada novel Tere adalah dengan menyelipkan beberpa percakapan dalam bahasa Belanda, seperti pada novel-novel Serial anak-anak mamak. Meski susah dibaca tapi justru membuat novel ini lebih berwarna.

Bukan hanya itu saja, pembaca Tere Liye yang jeli pasti juga menikmati bahwa Tere selalu memasukkan tokoh Tionghoa / Cina pada banyak novelnya. Pada Novel ini ada Bonda Upe yang mantan Cabo tetapi kini menjadi guru mengaji. Saya kira Tere ingin menggambarkan keniscayaan bahwa kita hidup di negara dengan berbagai latar belakang. Pada novel ini bahkan Tere hampir memasukkan semua etnis besar yang ada di Indonesia dalam novelnya. mulai dari makasar, menado, jawa, madura hingga Banda Aceh. Inilah novel tentang nasionalisme. Juga Novel Sejarah berlatar belakang sejarang perjuangan Bangsa.

Yang lebih penting dari itu semua adalah, inti dari kisah ini. Tentang pertanyaan kehidupan yang sangat besar. Tentang Keahkikian kita sebagai manusia, tentang Cinta, Tentang kebencian, tentang masa lalu. Ah…berat sekali serasa novel ini. Seperti biasa nasihat-nasihat agama diselipkan tanpa kita merasa digurui. Kisah-kisah indah dalam Al-Quran. Semua mengalir sebagai jawaban-jawaban pertanyaan tak tertanggungkan. So Novel ini adalah novel religi.

Tetapi tidak hanya itu, novel ini juga novel laga. Anda akan disuguhi bagaimana perlawanan seluruh penumpang kapal melawan Perompak Somalia yang sangat menegangkan.

Bagai sebuah puzle, kotak-kotak kisah misteri yang berserak dalam sebuah perjalanan suci. Tere mengajak pembaca untuk menikmati proses penyusunan puzle menjadi kisah yang utuh.
Aihhhh…kalau saya ceritakan semua, jangan-jangan nanti anda sudah tau isinya tanpa perlu membaca. So tulisan kecil ini semoga mencadi penyemangan membaca bacaan-bacaan yang baik. Yang menambah ilmu dan memberikan pencerahan.
Novel ini membuat saya jatuh rindu……
Selamat membaca!