Muna Madrah dot Com

a Note of Urban Mommy

Belajar Islam dari Orang Jepang

design by Pontho

design by Phonto

Book Review Islam di Mata Orang Jepang: Ulil, Gus Dur, Sampai Ba’asyir
Penulis : Hisanori Kato
Penterjemah : Ucu Fadhilah
Penerbit : Kompas 2014
Tebal: xvi+176 hal

Masih rezeki di bulan Maret, si Mas Jepun, yang lagi belajar bahasa Indonesia itu kasih saya hadiah lho…judul bukunya masih ada bau-bau jepangnya gitu..”Islam dimata Orang Jepang”. Ditulis oleh seorang sosiolog Jepang Hisanori Kato. Sebelumnya saya pernah membaca buku karya Hisanori Kato yang berjudul “ Indonesia di mata orang Jepang”, saya suka sekali gaya bertutur yang jujur dan penuh muatan. Eh…si Mas Jepun kasih hadiah karya Kato ini lagi….langsung deh di lahap dengan sukses he he he. Karena rezeki kan harus di bagi ya…iya..apa iya….? Nih saya bagi buat siapa saja pecinta buku, review nya aja :-).

Kalau orang Islam dan Indonesia belajar Islam sudah biasa ya…dari SD sampai Kuliah selalu ada mapel Agama. Belum lagi dari yang lain-lain, TPQ, pengajian ibu-ibu, Pengajian Bapak-Bapak, Majelis-Majelis Dzikir dan ilmu….Alhamdulillah. Tapi seberapa jauh kita aplikasikan ya? #plak..*nampar diri sendiri*

Buku Islam di mata orang jepang adalah ulasan dan opini yang jujur dari seorang Jepang yang beragama Budha dan melakukan penelitian tentang Islam di Indonesia. Hisanori Kato bertemu banyak tokoh mulai dari kalangan moderat, Nahdiyin, Liberal, Feminist dan Fundamental. Bukan main-main bahwa Kato berhasil mencecap ilmu dari tokoh berbagai kalangan yang saya sebutkan tadi. Dan dari sini saya melihat banyak sisi yang saya tidak tahu dari tokoh-tokoh yang agama dan politisi Indonesia. Yang beritanya hanya saya baca melalui sebaran di socmed  tanpa proses tabayun.

IMG_20150312_104351Misalnya Kato berbicara dengan Bismar Siregar, seorang pakar hukum di Universitas Muhammadyah jakarta, yang pada saat era Suharto sempat menjabat sebagai hakim agung. Dikala semua orang menghujat Suharto dan eforia kebencian terhadap suharto sangat tinggi, mantan hakim agung ini mempunyai pemikiran yang berbeda. “Dalam agama Islam MEMAAFKAN merupakan salah satu ajaran yang penting. Itulah mengapa pada bagian awal Al Quran tertulis “ Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang” dan dalil lain tentang memaafkan dalam Al Quran (hal. 19).

Bagaimana Islam dimanata budayawan Mohammad Sobary. Hisanori Kato dibuat heran oleh jamuan dan penerimaan Mohammad Sobary. Padahal dia tahu kepadatan jadwal budayawan sekaligus peneliti ini. Ketika Kato menanyakan Mengapa anda melakukan hal ini kepada saya? Jawab Sobary: Dalam agama Islam, menjamu tamu itu diutamakan , dan mencari ilmu juga sangat penting. Jadi membantu orang Jepang untuk tahu tentang Islam adalah kewajiban seorang muslim (hal30).

Lain lagi kisahnya bertemu dengan tokoh FPI, bernama Eka Jawa. Bang eka ini ternyata terlibat dalam beberapa aksi pengrusakan kafe di jakarta selama bulan Ramadhan. Dalam bayangan saya bertemu dengan orang-orang dari ormas ini adalah horor.  Ini haram itu haram. Tetapi Kato mendobrak mitos saya. Gambaran yang diberikan sedikit berbeda. Bagaimana dia yang seorang Budha dan Jepang diterima dengan baik di kantor FPI bahkan  dipandu perjalannya menuju kantor FPI dengan bahasa yang santun. Dari Ekajaya Kato belajar bahwa di Indonesia local identity (identitas geography: asal seseorang) berhubungan erat dengan religious identity. Ada alasan mengapa Ekajaya yang Betawi dan Islam melakukan penyerangan kafe yang menjual minuman keras di Kemang, tanah airnya. Meski tentu saja Kato tidak sependapat dengan aksi kekerasan. Tetapi diluar itu semua Eka Jaya memberi juga pelajaran bahwa Islam dapat berjalan beriringan dengan agama lain sepanjang tidak mengingkasi agama masing-masing.

Masih banyak tokoh lain yang memberikan pengetahuan Islam kepada Kato. Sebut saja Ismail Yusanto dari Hizbut Tahrir Indonesia, Fadli Zon yang politikus, Ulil Abshar Abdalla dari Jaringan Islam Liberal, Abu Bakar Ba’ashir dari Majelis Mujahiddin Indonesia, Lily Munir yang kalau boleh saya katakan mewakili suara perempuan, dan tentu saja Bapak Bangsa Gusdur yang mewakili suara Nahdiyin.

Semua gagasan orang-orang hebat itu sungguh luar biasa dan terus terang mengubah persepsi saya terhadap beberapa orang yang hanya saya kenal lewat media misalnya Fadli Zon yang dalam kacamata saya melalui media terlihat banyak bicara dan arogan, saya menemukan penggambaran yang berbeda oleh seorang Kato. Jelas Kato tidak punya tendensi apa-apa terkait pencitraan Fadli Zon, atau memberi kesan baik pada tokoh yang ditampilkanya. Tulisan ini jujur, itu saja.

Dalam ulasan Islam versi Ulil Abshar yang beraliran liberal ataupun Abu Bakar Ba’asyir yang fundamental, pun saya tidak merasakan sesuatu yang susah diterima terutama bagi non muslim. Bahwa Islam adalah cinta damai, bahwa Islam menghormati hak orang-orang non Islam sungguh bukan hanya sekedar slogan tetapi terimplementasi dalam tutur laku mereka.

Jelas Kato ingin menggambarkan Islam secara luas dengan menampilkan tokoh-tokoh dari berbagai latar belakang “aliran pemikiran keIslaman”. Seperti aliran Feminisme misalnya, Kato memberi judul dalam Babnya “Agama Islam untuk Perempuan” (hal. 90). Lily Munir sebagai representasi pemikir Islam perempuan sangat lugas menjelaskan bagaima Islam datang untuk mengangkat hak-hak perempuan yang tertindas di zaman jahiliah. Bahwasanya Agama Islam adalah agama yang memperlakukan manusia tanpa membedakan “laki-laki dan perempuan”, Lily mengatakan bahwa dalam konteks hubungan manusia dengan Allah, Bahwa Perempuan sama sekali tidak dianggap lebih rendah. Memang ada perbedaan laki-laki dan perempuan tapi tidak ada diskriminasi ( hal.96)

Buku ini ditutup dengan bagaimana Islam versi Gus Dur. Entah mengapa, membaca apapun baik karya ataupun buku tentang beliau membuat saya rindu pada sosok besar ini. Sikapnya yang sederhana, pemikiranya yang luas sungguh pengejawantahan dari keislaman beliau. Humornya yang renyah dan mengena menjadi bukti beliau adalah sosok yang dapat diterima dalam level masyarakat mana saja. Gus Dur yang “orang besar” mau menemui seorang peneliti di hotel yang biasa saja, hanya demi “menjaga janjinya”, Muslim itu harus menepati janji. Ajaran yang sederhana tapi sungguh mendalam.

Dari rentetan panjang pemikiran keislaman oleh banyak tokoh dari banyak aliran, saya menarik satu benang merah bahwa mereka semua memiliki satu karakteristik yang mungkin dapat saya sebut sebagai karakteristik “KeIndonesiaan”…pun demikian dengan tokoh-tokoh yang dalam pandangan umun dianggap fundamentalist seperti Abu Bakar Ba’asyir. Ya..itulah Islam Indonesia. Islam itu, cinta damai, Islam Itu menhormati tamu, Islam itu menjaga janji….dan orang Islam Indonesia itu ramah sekali lho….dan saya belajar itu dari seorang Hisanori Kato.
Selamat membaca!

Previous

VISA ≠ VISA

Next

Sejujurnya, Aku Jatuh Rindu

2 Comments

  1. fee

    Jadi tertarik membaca bukunya..
    TFS mak…

Leave a Reply

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén& Modified by Miss Fenny